Entah kenapa setiap ada kontestasi politik dan pascapelantikan pejabat publik, selalu kita dengar program seratus hari.

Bahkan di saat kampanye politik menjelang pemilihan kepala daerah, kita juga kerap mendengar para kandidat mempertaruhkan program seratus harinya. Sepertinya, kata ini menjadi mantra politik untuk memikat pemilih.

Tidak ada data yang jelas, sejak kapan program seratus hari menjadi trend dalam ranah politik kita. Mungkin setelah reformasi sebutan ini muncul. Pasalnya pada masa orde baru, dari Soeharto tak pernah kita mendengar sebutan program seratus hari.

Orde Baru hanya memperkenalkan istilah program Pelita (Pembangunan Lima Tahun) dan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Dari Orde Baru, kita juga mengenal sebutan GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara).

Pascarefromasi, semua yang berbau Orde Baru dilenyapkan. GBHN yang menjadi panduan utama pembangunan negara dihapus melalui amandemen UUD 1945 pada 2002. Kelahiran Undang-Undang RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) mengantikan posisi GBHN.

Akhir pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan program seratus hari pemerintahan Kabinet Indonesi Bersatu (KIB) II. Program pemberantasan mafia hukum menjadi prioritas kabinet kedua Yudhoyono.

Selain itu, penanggulangan terorisme, pengucuran dana Rp100 triliun untuk kredit usaha kecil dan menengah, revitalisasi industri pertahanan, revitalisasi pabrik pupuk/gula dan peningkatan produksi dan ketahanan pangan masuk dalam 15 program prioritas seratus hari Yudhoyono.

Namun, gegap gempita program seratus hari Yudhoyono “terlindas” oleh kisruh kelembagaan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kisruh kedua lembaga ini menghangat menyusul terbongkarnya rekaman pembicaraan antara Anggodo Widjaja dengan sejumlah pejabat kepolisian dan kejaksaan yang ditengarai melakukan rekayasa terhadap penahanan dua pimpinan KPK non aktif Bibit Samad Ryanto dan Chandra M Hamzah.

Sebenarnya, trend program seratus hari ini bukanlah khas Indonesia. Presiden Barrack Obama misalnya, setelah resmi dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat, Obama memprioritaskan pelaksanaan tiga program utama dalam seratus hari kepemimpinannya. Diantaranya, mengakhiri krisis ekonomi global, penarikan pasukan Amerika dari Irak, dan menutup penjara di Teluk Guantanamo.

Bagaimanapun, agar program seratus hari pertama Yudhoyono tak hanya menguap ke permukaan, sebagai masyarakat rasanya kita perlu memantau dan mengevaluasinya. (Arya Fernandes)

Istana rupanya tak selamanya menjadi magnet politik. Justru keputusan-keputusan politik penting acapkali diputuskan di luar istana. Tapi posisi istana sebagai simbol politik semua orang mengakuinya.  Cikeas, Cendana dan Camp David adalah contoh menarik dalam pusaran arus politik.

Puri Cikeas Bogor, bukan hanya kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga. Tapi juga markas politik Yudhoyono dan Demokrat. Selain di Istana Negara, keputusan-keputusan politik strategis Yudhoyono banyak digodok dari Cikeas. Tak heran bila dalam minggu ini: banyak orang menunggu kabar nama-nama calon menteri dari Cikeas.

Tradisi seleksi calon menteri dari Cikeas seperti pada 2004 lalu rupanya terus dipertahankan oleh Yudhoyono. Dari Cikeas juga Yudhoyono menyatakan pencalonan kembali sebagai presiden dan mengumumkan pidato kemenangannya dalam pemilu lalu. Tak hanya itu, tanggapan SBY terhadap kisruh pemilu legislatif, persoalan daftar pemilih tetap, dan arah koalisi Demokrat juga bermula dari Cikeas.

Soeharto juga memiliki kisah tersendiri di luar istana. Selain Bina Graha yang berada di kompleks kepresidenan, Cendana memiliki arti penting bagi sejarah panjang Soeharto dan Orde Baru. Saat gelombang gerakan reformasi menguat, Cendana benar-benar menjadi poros politik Soeharto. Dari Cendana, Soeharto mengendalikan arah politik sekembali dari lawatan kenegaraannya di Mesir.

Dari Cendana, Soeharto menampik keterangan pers yang dilakukan pimpinan DPR (Harmoko, Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad) yang meminta agar Presiden Soeharto secara arif dan bijaksana memilih mengundurkan diri.

Bahkan, dari Cendanalah Soeharto merencanakan pengunduran dirinya setelah 14 Menteri bidang Ekuin (Ekonomi, Keuangan dan Industri) Kabinet Pembangunan VII mengajukan surat pengunduran diri setelah “Deklarasi Bappenas”. Nama BJ Habibie sebagai calon presiden juga digodok Soeharto dari istana.

Selain dari Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat juga memiliki tempat khusus untuk mengambil keputusan politik strategis. Camp David namanya. Berada di sebelah Utara Maryland. Nama Camp David diberikan oleh Presiden Amerika Dwight D. Eisenhower pada 1953.

Selain sebagai basis angkatan laut Amerika, Camp David juga menjadi tempat pertemuan penting antara Presiden Amerika dengan pemimimpin-pemimpin dunia. Makanya nama Camp David menyejarah dalam sejarah perdamaian dunia antara Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin dengan Presiden Amerika Jimmy Carter pada 1978.

Setelah Perjanjian Camp David, Presiden Amerika Bill Clinton juga pernah menengahi perseteruan antara Pemimpin PLO (Palestine Liberation Organization) Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Camp David juga pernah menjadi tempat perencanaan invasi Normandia, invasi laut terbesar dalam sejarah yang melibatkan hampir tiga juta tentara yang menyeberangi Selat Inggris menuju Prancis yang diduduki Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Sebelumnya, pertemuan bersejarah pada Perang Dunia II antara Presiden Amerika Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill juga digelar di Camp David.

Dari Cikeas, Cendana dan Camp David kita belajar tentang “politik ruang”. Bahwa keputusan politik penting justru banyak dirumuskan di ruang-ruang informal politik bukan di ruang formal. (Arya Fernandes)

Rasa penasaran publik pada komposisi Kabinet Indonesia Bersatu II akhirnya terjawab. Rabu (21/10) Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan 34 nama menterinya. Cukup banyak kejutan dalam kabinet kedua ini. Beberapa nama yang diperkirakan akan mengisi pos-pos tertentu, justru gagal menjadi menteri. Pos Menteri Dalam Negeri yang secara tradisional diisi oleh militer, kini digantikan oleh sipil. Mantan Gubenur Sumatera Barat Gamawan Fauzi dipercaya SBY untuk menggantikan Mayjen (Purn) Mardiyanto.

Pemilihan kabinet kedua SBY juga tak mudah. Para calon menteri harus melewati proses uji kepatutan dan kelayakan di Puri Cikeas, Bogor. Belum berakhir di sini. Untuk terpilih menjadi menteri, para menteri pun harus mengikuti tes psikologi dan kesehatan. Di akhir tahapan seleksi, dua kontrak politik pun disodorkan kepada calon menteri. Yaitu pakta integritas dan kontrak kinerja. SBY rupanya tak mau main-main mengangkat para menterinya. Tak heran bila ada seorang calon menteri yang gagal mengikuti tes kesehatan.

Nah, apa yang menarik dari kabinet kedua SBY ini? Hasil analisis Charta Politika Indonesia menunjukkan beberapa temuan menarik. Pertama, meski ada perpaduan antara kalangan partai dan non-partai pada kabinet kedua, namun kalangan parpol banyak mengisi wajah kedua kabinet SBY. Dari 34 orang menteri, akomodasi terhadap kalangan parpol mencapai 20 orang. Demokrat memperoleh 6 kursi menteri, PKS (4), Golkar (3), PAN (3) PPP (2), dan PKB (2).

Sementara, dari non-parpol ada 14 kursi menteri. Kalangan profesional mendapat 8 kursi menteri. Disusul birokrat (4) dan purnawirawan militer (2).

Kedua, SBY memberikan kesempatan bagi wajah-wajah baru untuk mengisi sejumlah pos menteri. Temuan Charta menunjukkan, SBY hanya mempertahankan 10 orang menteri lama (29,4%). Sisanya, 24 menteri (70,6%) adalah wajah-wajah baru.

Ketiga, dari sisi umur, komposisi kabinet kedua SBY juga bervariasi. Sekitar 58,3% menteri berusia 51-60 tahun. 30,6% lainnya berusia 41-50, sekitar 8,3% berusia di atas 60 tahun. Dan 2,8% berusia 31-40 tahun.

Setelah haru-biru pemilihan dan pelantikan kabinet kedua SBY, Kamis (22/10) lalu, masyarakat jelas berharap banyak dari kinerja para menteri. Kita tunggu, apakah para menteri mampu mewujudkan tiga program utama SBY: peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan keadilan sosial. (Arya Fernandes)

Orang mulai menyebutnya sebagai Gus Dur kedua. Melalui pernyataan politiknya, geger politik pun terjadi. Hubungan SBY-Kalla sempat memanas saat ia menyebut Partai Golkar hanya akan meraih 2,5 persen suara pada pemilu legislatif. Bahkan Demokrat dan Golkar pecah kongsi pada pilpres lalu. Namanya Ahmad Mubarok. Dilahirkan di Purwokerto, 64 tahun silam.

Akhir Agustus lalu, Wakil Ketua Umum Demokrat itu kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Menurutnya, komunikasi politik yang tengah dibangun antara PDI Perjuangan dengan Demokrat hanyalah manuver politik untuk menekan partai mitra koalisi.

Pernyataan ini langsung mendapat tentangan keras dari partai mitra koalisi. Mubarok pun berkelit. Saat ditanya wartawan, Mubarok berdalih bahwa pers tidak utuh mengutip pernyataannya.

Akibat pernyataannya, tak hanya partai koalisi yang berang, pernyataan Mubarok juga memerahkan telinga elit PDI Perjuangan. Betapa tidak, Mubarok membantah Demokrat telah melakukan pendekatan ke PDI Perjuangan. Belakangan, beberapa partai koalisi meminta Demokrat memecat Mubarok.

Pernyataan kontroversial Ahmad Mubarok berhasil mendapat perhatian utama di media massa. Hasil media monitoring Charta Politika pada 24 – 30 Agustus 2009 menunjukkan Mubarok berhasil menjadi tokoh terpopuler dalam sepekan dengan intensitas pernyataan mencapai 32 pernyataan.

***

Yang kita kenang dari Gus Dur selain sosoknya yang toleran, pluralis, dan demokrat adalah sikap kontroversialnya dalam panggung politik. Semuanya bermula dari penyataan-pernyataan politiknya. Tak lama setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memilihnya sebagai presiden, Pengasuh Pesantren Ciganjur itu menyebut lembaga legislatif seperti taman kanak-kanak. Gus Dur juga pernah mengancam akan membubarkan DPR/MRR setelah terkuaknya kasus Buloggate dan Bruneigate.

Di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur juga muncul dengan kontroversial. Sebagai Ketua Dewan Syura PKB, ia pernah memecat Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil dan menggantinya dengan Alwi Shihab. Rupanya Matori bukanlah korban pertama. Setelah Matori, giliran Alwi ditendang dari kursi Ketua Umum PKB. Muhaimin Iskandar, diplot Gus Dur mengantikan Alwi. Petaka politik PKB belum berakhir di sini. Akhir Maret 2008, Gus Dur juga memecat keponakannya itu.

***

Lantas, selain pernyataaan yang kontroversial, apa yang membedakan implikasi pernyataan Mubarok dan Gus Dur? Dalam beberapa hal, pernyataan Gus Dur kadang membawa petaka politik. Ia dilengserkan dari kursi kepresidenan setelah menolak menyampaikan laporan pertangungjawaban dalam SI MPR. PKB terlibat konflik politik berkepanjangan. Setelah Matori dan Alwi, kini Gus Dur berseteru dengan Muhaimin. Meskipun kadang kontroversial, Gus Dur tetap kita kenang sebagai tokoh dan guru bangsa.

Berbeda dengan Gus Dur. Pernyataan Mubarak seperti berkah politik. Melalui pernyataannya, setelah Demokrat terlibat perang psikologi dengan Golkar, Demokrat dan SBY tampil sebagai pemenang dalam pemilu lalu. Belakangan, partai mitra koalisi tak lagi sibuk “meminta” jatah menteri setelah Mubarak “mengertaknya”. (Arya Fernandes)

Siang itu, 21 Agustus 2009, ia memperagakan blognya pada saya. “Baru belajar, Ya,” tuturnya merendah. Lelaki itu bernama Dicky Septriadi. Entah kenapa saya terbiasa menyapanya dengan panggilan “tiem” sebagai panggilan akrab saya. Ia juga memanggil saya dengan sebutan yang sama.

Saya membuka blog yang ia maksud. Melalui blognya, lelaki berkacamata yang gemar design grafis ini membuka mata saya untuk menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Bersama sejawatnya, ia mendirikan Imajinasi Foundation, sebuah lembaga non-profit yang fokus untuk membantu pendidikan anak usia dini.

Dua hari menjelang hari kemerdekaan, bersama Imajinasi Foundation, “tiem” sukses menggelar acara peringatan 17 Agustusan. Wajah cerita anak-anak tampak dari sejumlah foto yang ia pajang di blognya.

Di blog itu, “tiem”. juga bercerita tentang Si Omin dan Jenderal 86. Saya membaca dua tulisan ini dengan antusias. Bahasanya mengalir. Sesekali disisipi humor dengan gaya bahasa yang ngepop.

Siang itu, “tiem” menyarankan saya untuk kembali aktif menulis di blog. Lama saya termenung. Blog yang dulu pernah saya buat kembali saya buka. Sudah setahun rupanya tak pernah saya update. Sambil tersenyum, saya memeloti lama blog itu.

Pada “tiem” saya berujar: “Baik, saya akan menulis lagi di blog, atau mungkin akan menulis di situs pribadi,” ujar saya meyakinkan.

Ciputat, 21 Agustus 2009

Golkar selalu saja hadir dengan kejutan. Kali ini kejutan politik itu datang dari keluarga Cendana. Hutomo Mandala Putra yang akrab disapa Tommy Soeharto menyatakan kesiapannya untuk bertarung dalam pemilihan Ketua Umum Golkar pada Munas Golkar 4-7 Oktober nanti.

Kehadiran Tommy segera menjadi perbincangan hangat di internal Golkar. Bahkan, menjadi isu terhangat di media massa dalam seminggu terakhir ini, seperti terungkap pada hasil media monitoring Charta Politika Indonesia pada 17 – 23 Agustus 2009 dengan intensitas berita mencapai 55.300, disusul berita peringatan proklamasi (35.600), pengumuman hasil pilpres oleh KPU (34.600), kinerja MPR (19.500) dan penanganan terorisme (10.700).

Tentu ini menjadi pertanyaan penting. Mengapa media massa getol memberitakan kehadiran Tommy di panggung politik? Seberapa besarkah kehadiran Tommy dapat mempengaruhi konstelasi politik nasional? Untuk menjelaskannya, ada beberapa asumsi yang dapat digunakan. Pertama, faktor genealogi politik. Tommy adalah anak bungsu mantan Presiden Soeharto. Ia dianggap mewarisi kepribadian dan (bahkan) perawakan Soeharto. Selain itu, banyak yang menganggap Tommy bakal meneruskan dinasti politik Soeharto setelah pertaruhan politik Mba Tutut kurang mengembirakan.

Kedua, bos PT Timor Putera Nasional (TPN) Tommy juga mempunyai pundi-pundi uang yang besar. Tak heran bila ada yang menyindir, bahwa Munas Golkar kali ini adalah pertarungan para pengusaha (Aburizal Bakrie, Surya Paloh dan Tommy Soeharto). Ketiga, Tommy mempunyai rekam jejak politik yang kurang mengembirakan. Setelah Orde Baru tumbang, Tommy terjerat kasus hukum dengan perencanaan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita dan kepemilikan senjata api dan amunisi.

Keempat, kisah cinta Tommy juga banyak mendapat perhatian media massa. Setelah pisah ranjang dengan Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro (Tata), Tommy diberitakan pernah dekat dengan model Sandy Harun. Dan kabar teranyar, Tommy dikabarkan tengah dekat dengan Catherine Wilson dan Andi Soraya.

Kehadiran Tommy dalam panggung politik Golkar, meneguhkan bahwa dinasti politik Cendana belum sepenuhnya mati. Kekuatan modal dan jaringan bisnis Cendana masih tetap menggurita dalam konstelasi politik kita. Karena ia dibangun bukan dalam setahun, tapi 32 tahun. (A. Fernandes)

Jakarta, 24 Agustus 2009

Jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Wanita tua itu belum jua beringsut dari tempat duduknya. Dibalut jaket yang sudah lusuh, ia masih tetap menjajakan dagangannya.

Rambutnya sudah memutih, giginya sudah ompong. Tiap ada yang melewatinya, suaranya yang sudah terdengar sayu itu berucap: kerupuknya Nak.

Wanita tua itu bernama Sulastri, 77 tahun. Orang-orang sekitar lebih suka memanggilnya dengan sebutan Bu Cim.

Ia tak seperti wanita tua lainnya–yang hanya mengharapkan belas kasih orang-orang yang lalu lalang.
Disamping Bu Cim berjajar dagangan kerupuk. “Kadang, bila lagi laris ada yang memborongnya,” ujar nenek tua itu.

Di usia senjanya, Bu Cim hidup sebatang kara. Tiga puluh tujuh tahun silam, suaminya memilih meninggalkannya. “Saya tak punya anak. Dua tahun setelah kami menikah pada tahun 1970, suami saya pergi dan tak pernah kembali lagi,” katanya mengenang.

Setiap hari hingga malam menjelang, Bu Cim menjual dagangannya di Jalan Hayam Wuruk. Jangankan untuk mengontrak rumah, untuk biaya hidup sehari-hari saja Bu Cim harus menantang terik matahari dan dinginnya malam. “Saya tak punya rumah. Untuk ngontrak saya tak punya duit. Saya hanya tidur disini beralas koran,” ujar Bu Cim yang setiap hari menghabiskan waktunya di depan restoran Padang, Sinar Minang, Jalan Hayam Wuruk 120, Jakarta.

Malam itu, wanita tua itu lahap sekali menyantap nasi bungkusnya. Saya kaget: rupanya ia tak segera menghabiskan makan malam itu. Ia menyisakannya untuk bekalnya esok hari. Setelah tampak kenyang, ia menenggak air dari botol minuman. Nasi yang tersisa kembali ia bungkus dan menyimpannya di sudut dagangannya.

Bila ada yang lewat, kadang ada yang memberinya uang. Ia senang sekali. Dan senyum mengambang di pipinya.

Malam itu, kami terlibat perbincangan cukup lama. Walau usianya sudah tua, suara Bu Cim masih sangat jelas terdengar. Ia juga tidak pikun. Hanya matanya yang sedikit kabur walau tak begitu parah. Ia sangat senang sekali ketika saya bertanya banyak hal. Sesekali ia tertawa.

Dari perbincangan itu saya tahu, Bu Cim berasal dari Cirebon dan keturunan Tionghoa. Bu Cim tak pernah mengeluh tentang pahitnya kehidupan. Bu Cim mengajarkan saya untuk terus bersemangat dan menolong sesama. Sesekali ia memegang tangan saya dan mengulangi ucapannya.

Kepada saya Bu Cim bercerita bahwa ia pernah dicopet dalam jumlah yang besar. Saya tak kuasa mendengarnya. Tak sedikitpun kekesalan tampak di wajahnya saat mengulangi cerita itu. “Rezeki sudah diatur sama Tuhan,” kata Bu Cim.

Lama saya terdiam melihat sosok tua itu. Sambil memandanginya, saya berujar dalam hati: inilah potret kemiskinan di jantung negeri ini. Bu Cim, wanita tua yang harus menderita di sisa usianya*** (Arya Fernandes)

Saya Arya Fernandes, mengucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kesucian Idul Fitri memberi kedamaian dalam hati dan laku kita.

Saya menempuh jalur darat untuk mencapai Bukittinggi. Melewati Lampung, Palembang, Jambi hingga Sumatera Barat. Sengaja saya memilih ‘mudik’ dengan mobil. Di mobil, alunan musik ‘Minang’ menemani perjalanan panjang itu. Meski jauh, kenangan masa kecil di lereng gunung Merapi terasa hadir kembali.

Saya betul-betul menikmati perjalanan. Rerimbunan pohon nan hijau sepanjang lintas Sumatera, mengingatkan saya pada rerimbunan pohon dan rumput hijau di sekitar rumah, di lereng Merapi.

Saat menulis cacatan ini, saya tengah berada di ‘jantung’ kota Bukittinggi. Di Nagari (Desa) saya belum ada
warung internet. Untuk menemukannya, saya harus menempuh perjalanan ke pusat kota. Fenomena tersebut, saya kira merata di hampir semua nagari di Kabupaten Agam.

Saya maklum, nagari saya berada tepat di lereng gunung Merapi–jauh dari peradaban teknologi. Nagari itu bernama Lasi. Meski anak kampung, saya bangga. Saya menghabiskan masa kecil di sana. Bila ke kampung saya, Anda akan menemukan dua gunung: Merapi dan Singgalang serta bukit barisan.

Saya sudah lama tak lagi mendaki Merapi. Kemarin, saya terdorong untuk kembali mendaki lereng Merapi.

Lelah, saya harus mendaki 1.000 jenjang untuk mencapai lereng Merapi itu. Kini, lereng Merapi tak lagi seperti dulu saat saya kecil. Kini lereng tersebut, sudah menjadi daerah tujuan wisata. Meski belum populer.

Saya masih ingat. Dulu, setiap akhir pekan, walau masih berseragam sekolah, kami menghabiskan sore hari di sana. Berlarian, memetik buah-buahan, sambil tertawa terbahak-bahak.

Menjelang terbenam mentari, kami sudah turun lagi. Biasanya sambil berlarian, kami berteriak. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuruni lereng itu.

Hujan mulai turun di Bukittinggi. Orang masih lalu-lalang. Kendaraan hilir-mudik. Saya harus mengakhiri cacatan ini.

Saya bangga sebagai anak nagari (desa).

Bukittinggi, 30 September 2008

Deliar Noer: Sang Pengagum Hatta

Tiba-tiba mata saya tertuju pada buku: “Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965″. Sudah lama saya tak membaca kembali buku Prof. Dr. Deliar Noer itu.

Saya masih ingat, dulu waktu masih kuliah, kami diwajibkan membaca tersebut. Bagi saya buku ini berhasil merekam gagasan dan sikap politik partai Islam dari masa kemerdekaan hingga orde lama.

Saya ingin menulis sedikit tentang Deliar Noer.

Deliar Noer lahir di Medan, 9 Februari 1926. Menyambet doktor ilmu politik dari Cornel University, Ithaca, Amerika Serikat. Tak ada gegap gempita, saat mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menghembuskan nafas terakhir pada 18 Juni 2008 di Jakarta.

Deliar Noer, memang telah tiada. Tapi ia mewarisi visi keindonesian dan kebangsaan. Sebagai penggagum Mohammad Hatta, bersama keluarga, Deliar Noer hidup sederhana di Duren Sawit Jakarta Timur. Tak ada kemewahan yang mencolok di kediaman mantan Rektor UNJ itu. Di hari tua, Deliar Noer masih tetap bersemangat untuk terus mengajar dan berdiskusi. Tak jarang, bersama anak-anak muda, ia terlibat diskusi panjang tentang sejarah dan masa depan Indonesia. Hingga tua, Deliar Noer pun masih terus membaca, menulis dan berdiskusi.

Deliar Noer tak hanya dikenal sebagai cendikiawan muslim. Ia juga sejarawan, politisi, dan pakar politik. Dari tangannya, lahir karya-karya monumental: “Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942″, “Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965″ dan “Mohammad Hatta: Biografi Politik”

Ia adalah pribadi yang kritis, konsisten, dan disiplin. Tak hanya mengkritik konsep “Nasakom” (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) Bung Karno. Tapi, juga otoritarianisme orde baru hingga pemerintahan pasca-reformasi.

Deliar Noer memang memilih ‘berseberangan’ dengan penguasa. Kritisismenya diwakili melalui tulisan dan sikap politik.

http://aryafernandes.wordpress.com

Jakarta, 24 September 2008

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.