Beberapa waktu lalu, salah satu TV swasta (TV One) menghadirkan Dave Laksono (putra Wakil Ketua Partai Golkar Agung Laksono) dan Maruarar Sirait (putra Tokoh PDI Perjuangan Sabam Sirait) bersama Pengamat Politik Fachry Ali dalam acara apa kabar Indonesia.

Saya, mengikuti acara dialog itu.

Selain Dave dan Maruarar. Pada pemilu legislatif 2009 mendatang beberapa anak tokoh politik bakal memperebutkan satu kursi di Senayan. Sebut saja beberapa nama, seperti, Puan Maharani (putri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri), Muhammad Iqbal (putra Ketua Umum Parmusi Bachtiar Chamsyah), Agus Haz (putra mantan Ketua Umum PPP Hamzah Haz) dan Edi Baskoro Yudhoyono (putra Ketua Dewan Penasehat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono)

Saya menduga ada beberapa alasan kenapa anak tokoh politik di-plot sebagai anggota legislatif.

Pertama, ini adalah bagian dari pembentukan dinasti politik keluarga. Di Amerika Serikat trend dinasti politik juga terjadi, klan politik John F Kennedy adalah contohnya. Begitu juga klan politik Mahatma Gandhi di India. Kedua, ini adalah bagian dari desain meneruskan ideologi partai. Namun, hemat saya, tingkat relevansinya tak begitu kuat. Pasalnya, kini langgam politik bergerak ke arah de-ideologisasi politik.

Pertanyaan saya, mampukah anak tokoh politik tersebut meraup dukungan suara hanya berbekal nama besar keluarga? Memang, dari beberapa nama di atas, hanya Maruarar Sirait yang pernah menjadi anggota legislatif.

Pertanyaan selanjutnya, adakah relevansi nama besar keluarga dengan kualitas kepemimpinan politik sang anak?

Ya, kita akan menunggunya. Bila tidak, publik harus kita dorong untuk betul-betul meneliti rekam jejak calon. Tak hanya karena nama besar keluarga.

Ciputat, 7/8/08