Saya menempuh jalur darat untuk mencapai Bukittinggi. Melewati Lampung, Palembang, Jambi hingga Sumatera Barat. Sengaja saya memilih ‘mudik’ dengan mobil. Di mobil, alunan musik ‘Minang’ menemani perjalanan panjang itu. Meski jauh, kenangan masa kecil di lereng gunung Merapi terasa hadir kembali.
Saya betul-betul menikmati perjalanan. Rerimbunan pohon nan hijau sepanjang lintas Sumatera, mengingatkan saya pada rerimbunan pohon dan rumput hijau di sekitar rumah, di lereng Merapi.
Saat menulis cacatan ini, saya tengah berada di ‘jantung’ kota Bukittinggi. Di Nagari (Desa) saya belum ada
warung internet. Untuk menemukannya, saya harus menempuh perjalanan ke pusat kota. Fenomena tersebut, saya kira merata di hampir semua nagari di Kabupaten Agam.
Saya maklum, nagari saya berada tepat di lereng gunung Merapi–jauh dari peradaban teknologi. Nagari itu bernama Lasi. Meski anak kampung, saya bangga. Saya menghabiskan masa kecil di sana. Bila ke kampung saya, Anda akan menemukan dua gunung: Merapi dan Singgalang serta bukit barisan.
Saya sudah lama tak lagi mendaki Merapi. Kemarin, saya terdorong untuk kembali mendaki lereng Merapi.
Lelah, saya harus mendaki 1.000 jenjang untuk mencapai lereng Merapi itu. Kini, lereng Merapi tak lagi seperti dulu saat saya kecil. Kini lereng tersebut, sudah menjadi daerah tujuan wisata. Meski belum populer.
Saya masih ingat. Dulu, setiap akhir pekan, walau masih berseragam sekolah, kami menghabiskan sore hari di sana. Berlarian, memetik buah-buahan, sambil tertawa terbahak-bahak.
Menjelang terbenam mentari, kami sudah turun lagi. Biasanya sambil berlarian, kami berteriak. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuruni lereng itu.
Hujan mulai turun di Bukittinggi. Orang masih lalu-lalang. Kendaraan hilir-mudik. Saya harus mengakhiri cacatan ini.
Saya bangga sebagai anak nagari (desa).
Bukittinggi, 30 September 2008