Tokoh


Deliar Noer: Sang Pengagum Hatta

Tiba-tiba mata saya tertuju pada buku: “Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965″. Sudah lama saya tak membaca kembali buku Prof. Dr. Deliar Noer itu.

Saya masih ingat, dulu waktu masih kuliah, kami diwajibkan membaca tersebut. Bagi saya buku ini berhasil merekam gagasan dan sikap politik partai Islam dari masa kemerdekaan hingga orde lama.

Saya ingin menulis sedikit tentang Deliar Noer.

Deliar Noer lahir di Medan, 9 Februari 1926. Menyambet doktor ilmu politik dari Cornel University, Ithaca, Amerika Serikat. Tak ada gegap gempita, saat mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menghembuskan nafas terakhir pada 18 Juni 2008 di Jakarta.

Deliar Noer, memang telah tiada. Tapi ia mewarisi visi keindonesian dan kebangsaan. Sebagai penggagum Mohammad Hatta, bersama keluarga, Deliar Noer hidup sederhana di Duren Sawit Jakarta Timur. Tak ada kemewahan yang mencolok di kediaman mantan Rektor UNJ itu. Di hari tua, Deliar Noer masih tetap bersemangat untuk terus mengajar dan berdiskusi. Tak jarang, bersama anak-anak muda, ia terlibat diskusi panjang tentang sejarah dan masa depan Indonesia. Hingga tua, Deliar Noer pun masih terus membaca, menulis dan berdiskusi.

Deliar Noer tak hanya dikenal sebagai cendikiawan muslim. Ia juga sejarawan, politisi, dan pakar politik. Dari tangannya, lahir karya-karya monumental: “Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942″, “Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965″ dan “Mohammad Hatta: Biografi Politik”

Ia adalah pribadi yang kritis, konsisten, dan disiplin. Tak hanya mengkritik konsep “Nasakom” (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) Bung Karno. Tapi, juga otoritarianisme orde baru hingga pemerintahan pasca-reformasi.

Deliar Noer memang memilih ‘berseberangan’ dengan penguasa. Kritisismenya diwakili melalui tulisan dan sikap politik.

http://aryafernandes.wordpress.com

Jakarta, 24 September 2008

Kalanidhi Maran:
Penguasa Media di Negeri Gandhi

Tak ingin terjebak dalam nama besar keluarga. Bisa jadi hal itulah yang mendorong Maran menggeluti industri media di India.

Pria yang sekarang telah menginjak usia 44 tahun ini lahir dalam sebuah keluarga politisi India ternama. Ayahnya, Murasoli Maran, adalah figur pemimpin berpengaruh di ‘Negeri Sungai Gangga’ itu.

Sementara itu, saudara kandung Maran, Dayanidhi Maran pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi. Penyandang gelar MBA dari Universitas Scranton, Pennsylvania, AS, tersebut mengawali karier jurnalistiknya pada usia 27 tahun.

Ketika itu, tahun 1991, Maran bekerja sebagai wartawan lepas pada majalah Poomalai di Tamil. Ia juga pernah bekerja pada

Sumangali Publications, perusahaan penerbitan milik keluarga.

Dua tahun kemudian, ia mendirikan Sun TV, jaringan TV yang menguasai wilayah selatan India. Perusahaan itu berkembang pesat sehingga mendorong Maran membentuk Sun Network.

Melalui Sun Network, Maran membuktikan tangan dinginnya sebagai pengusaha multimedia. Kini perusahaan yang dipimpinnya itu telah membawahi 18 stasiun TV, 45 pemancar radio, dua surat kabar, dan empat majalah.

Jaringan bisnisnya meliputi, Tamil Nadu, Adhra Pradesh, Kerala, dan Karnataka. Tercatat, pangsa pasar Sun Network untuk jaringan televisi di kawasan tersebut mencapai 30%. Tahun 2006, Sun Network melantai di bursa saham Bombai. Namun Maran masih menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 90%.

Oleh majalah Forbes, pria yang pernah menerima penghargaan

Worldcom Group sebagai salah satu Pengusaha Muda Internasional 1999, didudukkan sebagai orang terkaya dunia ke-446 dengan jumlah kekayaan sebesar US$2,6 miliar. (arya fernandes)

Mikhail Fridman:
Karam di Politik

Hengkang dari Ukraina menuju Rusia pada 1986, ternyata membawa keberuntungan bagi Fridman.

Memulai kehidupan di negara tersebut sebagai mahasiswa Institut Baja Moskow, pria yang menghabiskan masa kecil di Lvov, Ukraina, ini mengisi waktu luang sebagai kepala penjualan tiket di Teater Moskow.

Sesuatu yang sangat dilarang oleh rezim Soviet kala itu. Namun, Fridman tetap melakoninya hingga ia menyelesaikan kuliah.

Baru pada 1990, pemuda Fridman bersama German Khan dan Alexei Kuzmichev membidani kelahiran Alfa-Eco Group. Sebuah korporasi bisnis yang bergerak di sektor minyak, gas alam, ritel, telekomunikasi, teknologi, dan perbankan.

Fridman juga mendirikan Alfa Bank yang kemudian mengantarkannya sebagai bankir Rusia terkaya saat ini. Selain Alfa Bank, Alfa Group juga membawahi Alfa Capital Management, TNK-BP, Altimo, dan MegaFon.

Altimo Group, perusahaan telekomunikasi yang berada di bawah manajemen Alfa Group, bahkan telah berkembang pesat di Ukraina, Turki, Rusia, dan Uzbekistan.

Ia juga menguasai 13% saham di Turkcell, operator seluler terbesar di Turki.

Kini Fridman dipercaya menjadi Ketua Dewan Pengawas Alfa Group.

Sebelumnya ia menjadi anggota Dewan Direktur Ikatan Pengusaha Rusia dan anggota Majelis Rendah Rusia.

Ia juga pernah menjadi Direktur TNK-BP, produsen minyak terbesar ketiga di Rusia. Selain berbisnis, Fridman pun mencoba keberuntungannya di ranah politik.

Meski berhasil terpilih menjadi anggota Majelis Rendah Rusia, karier politiknya ternyata tak segemilang di dunia bisnis. Pada 2005 ia tersandung kasus privatisasi rumah. (arya fernandes)

William Ding:
Berawal dari 20 Karyawan

Booming industri internet ternyata membawa berkah besar bagi pria kelahiran Ningbo, Provinsi Zhejiang, China, 37 tahun lalu ini.

Jebolan sarjana Universitas Sains dan Teknologi China tersebut memulai kariernya sebagai teknisi instansi pemerintah lokal Ningbo. Setelah menyelesaikan masa kerjanya di sana, Ding hijrah ke Guangzho. Di Guangzho, ia bekerja untuk perusahaan peranti lunak asal AS, Sybase, sebelum akhirnya bekerja pada sebuah perusahaan telekomunikasi China.

Pada 1997, Ding berinisiatif mendirikan NetEase, yang kini telah menjelma menjadi perusahaan pengembangan internet terkemuka di ‘Negeri Tirai Besi’ itu.

Melalui NetEase, ia mengukuhkan diri sebagai salah orang terkaya di China daratan pada 2003 dengan kekayaan sebesar 7,6 miliar yuan.

Kemudian oleh majalah Forbes, ia didaulat menjadi orang terkaya ke-1.062 di dunia dengan total kekayaan mencapai US$1 miliar.

Ding mungkin tak pernah menyangka bahwa bisnis internetnya yang satu dasawarsa lalu hanya digawangi 20 karyawan saja ini, dapat meningkat pesat. Dan kini, hasil kajian NASDAQ menunjukkan jumlah pegawai NetEase telah melonjak tajam dari 20 orang menjadi 1.500 pegawai.

Keberhasilan NetEase tak lepas dari inovasi yang dilakukan Ding. Dia yang pertama kali memperkenalkan layanan e-mail gratis dengan menggunakan dua bahasa.

Program itu ditengarai berhasil menjadi titik pijak pengembangan industri internet di China. Berkat prestasinya, pemerintah China pun memberi Ding hak cipta hasil karyanya.

Karier bisnis Direktur Eksekutif NetEase ini tak sia-sia. Ding meraup banyak keuntungan dari dunia maya, tak hanya materi namun juga citra.

Oleh pemerintah, Ding ditempatkan sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam kebangkitan sistem transformasi teknologi, integrasi teknologi internet, dan teknologi digital di China. (arya fernandes)

Vuslat Dogan Sabanci:
Meniti Karier Jurnalistik dari Bawah

TAK ada individu yang mewakili dinamika industri pers di Turki selain perempuan berusia 37 tahun ini. Memilih berkarier di media massa mungkin memang sudah menjadi cita-cita Sabanci sejak kecil.

Perempuan berambut cokelat terang ini tercatat sebagai anggota Dewan Penasihat harian Hurriyet.

Oleh majalah Forbes, pewaris kerajaan media Trader Media East Limited di Turki ini didaulat sebagai orang terkaya ke-1.062 di dunia.

Kini, total kekayaan Sabanci tercatat tak kurang dari US$1 miliar.

Menantu miliuner Turki Sevket Sabanci ini menyelesaikan studi sarjana bidang ekonomi di Universitas Bilkent. Setelah itu, Sabanci memutuskan untuk pergi ke AS, mengambil gelar master of art dalam bidang komunikasi dan media pada Columbia University, New York.

Karier Subanci di dunia jurnalistik sendiri berawal dari bawah. Di AS, dia bergabung dengan surat kabar papan atas The New York Times.

Sabanci pun kemudian dipercaya menjadi anggota pada bagian editorial.

Setahun berikutnya, Sabanci memutuskan untuk pindah kerja ke surat kabar ternama lain, The Wall Street Journal.

Di surat kabar bersegmen bisnis dan keuangan itu, dia turut andil mengembangkan Business World News Channel. Selain itu, Sabanci juga membidani kelahiran sebuah jurnal Amerika Latin.

Kembali ke Turki, Sabanci kemudian bergabung dengan surat kabar

Hurriyet pada 1996. Walau mempunyai rekam jejak positif, karier Sabanci juga tak langsung melejit. Awalnya, dia hanya dipercaya menjadi wakil direktur bidang periklanan. Setelah tiga tahun berlalu, Sabanci akhirnya dipercaya menjadi direktur pemasaran. Dia bertanggung jawab atas pemasaran, penjualan, sumber daya manusia, sistem informasi, dan teknologi.

Dan sejak Maret 2007, Sabanci tak hanya menjabat sebagai anggota dewan direksi Hurriyet. Dia juga dipercaya menjadi wakil presiden dari Trader Media East Limited, yang 67,29% sahamnya dimiliki Hurriyet Group. Sabanci juga aktif sebagai anggota dewan Internasional Press Institute. (arya fernandes)

Gleb Fetisov:
Bankir Andalan Rusia

Sejak muda, pria yang dilahirkan 41 tahun lalu di sebuah kota kecil tak jauh dari Moskow, Rusia, memiliki minat pada bidang ekonomi. Ia mengambil kuliah di jurusan ekonomi Universitas Negeri Moskow, dan lulus dengan gelar doktor kehormatan pada 1988.

Fetisov kemudian memulai debut kariernya pada 1990 di pusat institut ekonomi dan matematika milik Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet. Pada 1993-1995, ia menjabat sebagai deputi direktur dan direktur dari beberapa bank komersial di negeri yang terkenal dengan Vodkanya itu.

Semenjak 1995, Fetisov silih berganti memegang posisi eksekutif dari perusahaan besar di bidang keuangan dan industri. Ia menjabat sebagai presiden grup Alfa Eco sebelum terpilih menjadi wakil rakyat dalam keanggotaan Dewan Federasi. Pada 2001, ia terpilih sebagai perwakilan wilayah Voronezh.

Meskipun demikian, Fetisov masih merasakan dahaga terhadap ilmu pengetahuan. Ayah dua anak ini kembali ke bangku kuliah untuk menyelesaikan program S-2 dan lagi-lagi lulus dengan gelar kehormatan pada 1995 dari Akademi Keuangan Pemerintahan Rusia. Tiga tahun kemudian, ia mempertahankan tesis untuk meraih gelar PhD di bidang keuangan, peredaran uang, dan kredit. Dengan program Bank Dunia, Fetisov melanjutkan pendidikan di Amerika, dan pada Maret 2003 ia kembali membuat tesis doktoral berjudul Banking System Sustainability dan Assessment Methodology.

Kembali ke Rusia, Fetisov aktif dalam berbagai kegiatan riset perbankan. Ia menjadi kepala N.P Fedorenko’s International Scientific Foundation untuk penelitian ekonomi. Ia juga tokoh sentral di bidang manajemen perbankan dan restrukturisasi kredit Rusia.

Dengan kekayaan sebesar US$3,9 miliar, Fetisov berada di peringkat 277 orang terkaya sedunia versi majalah Forbes 2008. (arya fernandes)

Jeffrey Skoll :
Dermawan Penikmat Film

Tak banyak orang seperti Skoll. Kaya dan dermawan.

Dilahirkan di Montreal, Kanada, 43 tahun lalu, Skoll muda menyukai buku-buku Aldous Huxley dan Ayn Rand. Dari kedua penulis ini, ia belajar menulis.

Walaupun akhirnya Skoll mengambil studi pada bidang teknik mesin di University of Toronto, ia tak meninggalkan hobinya menulis.

Pria yang dinobatkan majalah Forbes sebagai orang terkaya ke-296 dengan total kekayaan sebesar US$3,6 miliar (sekitar Rp33,1 triliun) ini pernah bekerja pada The Toike Oike, lembaga pers di kampusnya.

Tahun 1995, ia meninggalkan Kanada untuk menempuh pendidikan pascasarjana pada Sekolah Bisnis Stanford. Selulus dari Stanford, Skool memilih meniti karier di Knight-Ridder, perusahaan percetakan dan penerbitan.

Setelah setahun berlalu, ia bertemu dengan Pierre Omidyar, pendiri situs lelang eBay. Skoll pun didaulat menjadi pimpinan perusahaan setelah berhasil menaikkan laba perusahaan.

Skoll juga seorang penikmat film sejati. Kini ia menjadi CEO pada Participant Production, rumah produksi film-film dokumenter yang berbasis di Los Angeles.

Film Good Night and Good Luck yang diproduserinya berhasil masuk nominasi Piala Oscar pada 2006.

Darfur Now, film yang berkisah tentang genosida di Darfur, juga digarap oleh rumah produksi pimpinan Skoll.

Prestasinya yang paling spektakuler adalah An Inconvenient Truth. Film dokumenter ini mengangkat isu global warming dan dituturkan oleh mantan Wapres AS, Al Gore.

Setelah berada pada puncak kariernya, Skoll aktif menggelontorkan kekayaannya pada sejumlah program kemanusiaan.

Skoll Foundation, lembaga yang ia dirikan, tercatat sebagai yayasan kemanusiaan dan kewirausahaan terbesar di dunia dewasa ini. Skoll juga mendanai program studi Skoll Centre for Social Enterpreneurship pada Oxford University. Atas sumbangannya terhadap kemanusiaan, ia kemudian dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh University of Toronto. (arya fernandes)

Roman Abramovich:
Kemalangan yang Menjadi Keberuntungan

MUNGKIN kemalangan pada usia belia yang membuatnya berhasil.

Setelah ditinggal mati ibunya, Irina Ostrowski pada usia satu tahun, Roman Abramovich harus pasrah ditinggalkan ayahnya, Arkady Abramovich, dua tahun kemudian.

Roman kecil kemudian dibesarkan dalam keluarga sanak saudaranya yang Yahudi. Sebelum meniti karier di dunia bisnis, Roman mengawali kariernya di militer.

Ia pun pernah belajar pada sekolah industri di Ukhta dan kemudian melanjutkan pada Institut Transportasi Negara, di Moskow, Rusia. Namun ia tak betah dan memilih mengundurkan diri.

Dewi Fortuna rupanya ada di pihaknya. Privatisasi dan liberalisasi ekonomi yang digulirkan oleh Presiden Mikhail Gorbachev pada akhir 1980-an bak gayung bersambut baginya.

Pilihannya mendirikan perusahaan minyak sukses. Tak salah, mengapa pria yang memiliki catatan panjang karier bisnis dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya ke-15, dengan total kekayaan sebesar US$23,5 miliar.

Lihat saja, pada 1992-1995, Abramovich sudah mendirikan lima perusahaan minyak. Bersama Boris Berezovsky, ia pun mengambil alih Sibneft, perusahaan minyak Rusia.

Tak tanggung-tanggung, bersama Eugene Shvidler, Abramovich juga mempunyai saham yang signifikan pada Aeroflot, perusahaan penerbangan Rusia.

Pria berkebangsaan Rusia ini juga berhasil melakukan merger atas aset Oleg Deripaska dan mendirikan Rusal, perusahaan alumunium terbesar.

Kini perusahaannya, Millhouse LLC, sudah banyak berinvestasi di sektor industri otomotif, makanan, dan realestat.

Tidak hanya dunia bisnis yang digeluti pemilik klub Chelsea ini. Pria berusia 41 tahun juga meniti karier politik. Pada 1999, ia terpilih sebagai anggota legislatif di Chukotka Autonomous Okrug. Puncak karier politiknya berada saat ia menggantikan Alexander Nazarov sebagai Gubernur Chukotka. Bahkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, memuji keberhasilan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Chukotka. Tampaknya kesuksesan masih akan terus menaungi Abramovich. (arya fernandes)

Jack Ma:
Mendulang Dolar dari Internet

Pria kelahiran Hangzhou, China, ini tak pernah berpikir kedatangannya ke AS tiga belas tahun yang lalu akan membawa berkah.

Dalam perbincangannya dengan New York Times, Ma menuturkan, keajaiban ‘Paman Sam’ telah mengubah nasibnya.

Semula Ma yang menyandang gelar sarjana dari Hangzhou Teacher’s Institute, pada 1988 hanyalah seorang guru bahasa Inggris dan mengampu mata kuliah perdagangan internasional di beberapa universitas lokal.

Ia pun pernah bekerja sebagai pemandu wisata bagi turis mancanegara di Hangzhou.

Tahun 1995, Ma bertolak ke AS untuk menagih utang seorang pengusaha China. Sayangnya, upaya itu berakhir dengan mendekamnya Ma di bui selama dua hari akibat bentrok dengan pengusaha tersebut.

Di negara adidaya tersebut, pria yang awam dengan dunia informatika ini kemudian bekerja pada seorang pengusaha yang ingin mengembangkan bisnis internet di China. Dapat dikatakan, momen itulah titik awal kesuksesan Ma yang kini memiliki bisnis online terkemuka di China.

Setelah mengantongi modal US$2 ribu, ia memilih pulang ke kampung halaman dan mulai mengembangkan bisnisnya. Dengan modal tersebut, ia membeli barang-barang elektronik berharga murah di luar China untuk kemudian dipasarkan di dalam negeri.

Kesuksesan bisnisnya mendorong pria berwajah tirus ini mendirikan situs Alibaba.com pada 1998.

Situs ini memungkinkan terjadinya transaksi jual beli secara

online dari berbagai penjuru dunia. Hanya dalam setahun, situs tersebut memiliki 12 juta anggota dari 200 negara dan bahkan membuat

Yahoo! tergiur untuk mengajak Ma bekerja sama.

Pada 2007, Ma, didapuk menjadi CEO Alibaba.com dan ditempatkan majalah Forbes pada peringkat ke-1.014 orang terkaya dunia, dengan total kekayaan mencapai US$1,1 miliar.(arya fernandes/25/4/2008)

Lakshmi Mittal:
Dari Gubuk Reot ke Kensington Palace

MENGGUNGGULI Ratu Elizabeth II dalam peringkat orang terkaya di Inggris, tak membuat Lakshmi Mittal sombong. Ia masih menjadi sosok yang dermawan.

Mittal, 57 tahun, menghabiskan masa kecil bersama kakeknya di Sadulpur, pinggiran Rajasthan, India. Tinggal di sebuah gubuk reot, beratap rumpia, dan tanpa alas kasur yang memadai.

Sesekali ia mengunjungi ayahnya yang bekerja di perusahaan baja, di Calcuta. Keadaan itu tampaknya tak menjadi halangan berarti bagi Mittal untuk maju. Minatnya pada dunia bisnis mulai menguat, terutama setelah menyelesaikan pendidikan di St Xavier’s College, pada 1969 di Calcuta. Banyak orang terhenyak, dari anak buruh pabrik ia mengukir kegemilangan dengan menjadi orang terkaya di Inggris versi koran

The Sunday Times 2008 dengan total kekayaan US$54,9 miliar.

Kini, Mittal kecil seperti berubah takdirnya. Ia tak lagi mendiami gubuk reot di pinggiran Rajasthan. Namun, menyulap kediamannya di Kensington Palace Gardens menjadi tempat peristirahatan termegah di dunia setelah membelinya dari Bernie Ecclestone, bos Formula 1, senilai US$128 juta, pada 2004.

Peristirahatan itu pun disulap dengan gaya arsitektur modern lengkap dengan sentuhan India.

Tak heran, ia pun berani memboyong sejumlah bintang India seperti Rani Mukerji, Saif Ali Khan, Shahrukh Khan, dan Aishwarya Rai untuk menghadiri resepsi pernikahan sang putri, Vanisha Mittal, di Vaux le Vicomte pada 2004 lalu.

Ia pun rela merogoh kocek mencapai US$60 juta untuk sebuah pesta pernikahan termahal di dunia itu.

Lalu, bagaimanakah perjalanan bisnis Mittal? Mittal mengawali kariernya sebagai karyawan di perusahaan baja di India. Pada 1976, ia dipercaya mengurusi divisi hubungan internasional yang memulai kerja sama bisnis di Indonesia.

Setelah belasan tahun berkiprah di perusahaan baja, pada 1994, ia memberanikan diri membentuk perusahaan baja yang dinamai Mittal Steel dan bisnisnya melejit sampai merajai perusahaan baja dunia. Kini ia menjadi CEO pada Arcelor Mittal, perusahaan raksasa baja dunia yang mengabungkan Arcelor dan Mittal Steel. (arya fernandes)

Next Page »