Uncategorized


Istana rupanya tak selamanya menjadi magnet politik. Justru keputusan-keputusan politik penting acapkali diputuskan di luar istana. Tapi posisi istana sebagai simbol politik semua orang mengakuinya.  Cikeas, Cendana dan Camp David adalah contoh menarik dalam pusaran arus politik.

Puri Cikeas Bogor, bukan hanya kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga. Tapi juga markas politik Yudhoyono dan Demokrat. Selain di Istana Negara, keputusan-keputusan politik strategis Yudhoyono banyak digodok dari Cikeas. Tak heran bila dalam minggu ini: banyak orang menunggu kabar nama-nama calon menteri dari Cikeas.

Tradisi seleksi calon menteri dari Cikeas seperti pada 2004 lalu rupanya terus dipertahankan oleh Yudhoyono. Dari Cikeas juga Yudhoyono menyatakan pencalonan kembali sebagai presiden dan mengumumkan pidato kemenangannya dalam pemilu lalu. Tak hanya itu, tanggapan SBY terhadap kisruh pemilu legislatif, persoalan daftar pemilih tetap, dan arah koalisi Demokrat juga bermula dari Cikeas.

Soeharto juga memiliki kisah tersendiri di luar istana. Selain Bina Graha yang berada di kompleks kepresidenan, Cendana memiliki arti penting bagi sejarah panjang Soeharto dan Orde Baru. Saat gelombang gerakan reformasi menguat, Cendana benar-benar menjadi poros politik Soeharto. Dari Cendana, Soeharto mengendalikan arah politik sekembali dari lawatan kenegaraannya di Mesir.

Dari Cendana, Soeharto menampik keterangan pers yang dilakukan pimpinan DPR (Harmoko, Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad) yang meminta agar Presiden Soeharto secara arif dan bijaksana memilih mengundurkan diri.

Bahkan, dari Cendanalah Soeharto merencanakan pengunduran dirinya setelah 14 Menteri bidang Ekuin (Ekonomi, Keuangan dan Industri) Kabinet Pembangunan VII mengajukan surat pengunduran diri setelah “Deklarasi Bappenas”. Nama BJ Habibie sebagai calon presiden juga digodok Soeharto dari istana.

Selain dari Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat juga memiliki tempat khusus untuk mengambil keputusan politik strategis. Camp David namanya. Berada di sebelah Utara Maryland. Nama Camp David diberikan oleh Presiden Amerika Dwight D. Eisenhower pada 1953.

Selain sebagai basis angkatan laut Amerika, Camp David juga menjadi tempat pertemuan penting antara Presiden Amerika dengan pemimimpin-pemimpin dunia. Makanya nama Camp David menyejarah dalam sejarah perdamaian dunia antara Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin dengan Presiden Amerika Jimmy Carter pada 1978.

Setelah Perjanjian Camp David, Presiden Amerika Bill Clinton juga pernah menengahi perseteruan antara Pemimpin PLO (Palestine Liberation Organization) Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Camp David juga pernah menjadi tempat perencanaan invasi Normandia, invasi laut terbesar dalam sejarah yang melibatkan hampir tiga juta tentara yang menyeberangi Selat Inggris menuju Prancis yang diduduki Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Sebelumnya, pertemuan bersejarah pada Perang Dunia II antara Presiden Amerika Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill juga digelar di Camp David.

Dari Cikeas, Cendana dan Camp David kita belajar tentang “politik ruang”. Bahwa keputusan politik penting justru banyak dirumuskan di ruang-ruang informal politik bukan di ruang formal. (Arya Fernandes)

Rasa penasaran publik pada komposisi Kabinet Indonesia Bersatu II akhirnya terjawab. Rabu (21/10) Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan 34 nama menterinya. Cukup banyak kejutan dalam kabinet kedua ini. Beberapa nama yang diperkirakan akan mengisi pos-pos tertentu, justru gagal menjadi menteri. Pos Menteri Dalam Negeri yang secara tradisional diisi oleh militer, kini digantikan oleh sipil. Mantan Gubenur Sumatera Barat Gamawan Fauzi dipercaya SBY untuk menggantikan Mayjen (Purn) Mardiyanto.

Pemilihan kabinet kedua SBY juga tak mudah. Para calon menteri harus melewati proses uji kepatutan dan kelayakan di Puri Cikeas, Bogor. Belum berakhir di sini. Untuk terpilih menjadi menteri, para menteri pun harus mengikuti tes psikologi dan kesehatan. Di akhir tahapan seleksi, dua kontrak politik pun disodorkan kepada calon menteri. Yaitu pakta integritas dan kontrak kinerja. SBY rupanya tak mau main-main mengangkat para menterinya. Tak heran bila ada seorang calon menteri yang gagal mengikuti tes kesehatan.

Nah, apa yang menarik dari kabinet kedua SBY ini? Hasil analisis Charta Politika Indonesia menunjukkan beberapa temuan menarik. Pertama, meski ada perpaduan antara kalangan partai dan non-partai pada kabinet kedua, namun kalangan parpol banyak mengisi wajah kedua kabinet SBY. Dari 34 orang menteri, akomodasi terhadap kalangan parpol mencapai 20 orang. Demokrat memperoleh 6 kursi menteri, PKS (4), Golkar (3), PAN (3) PPP (2), dan PKB (2).

Sementara, dari non-parpol ada 14 kursi menteri. Kalangan profesional mendapat 8 kursi menteri. Disusul birokrat (4) dan purnawirawan militer (2).

Kedua, SBY memberikan kesempatan bagi wajah-wajah baru untuk mengisi sejumlah pos menteri. Temuan Charta menunjukkan, SBY hanya mempertahankan 10 orang menteri lama (29,4%). Sisanya, 24 menteri (70,6%) adalah wajah-wajah baru.

Ketiga, dari sisi umur, komposisi kabinet kedua SBY juga bervariasi. Sekitar 58,3% menteri berusia 51-60 tahun. 30,6% lainnya berusia 41-50, sekitar 8,3% berusia di atas 60 tahun. Dan 2,8% berusia 31-40 tahun.

Setelah haru-biru pemilihan dan pelantikan kabinet kedua SBY, Kamis (22/10) lalu, masyarakat jelas berharap banyak dari kinerja para menteri. Kita tunggu, apakah para menteri mampu mewujudkan tiga program utama SBY: peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan keadilan sosial. (Arya Fernandes)

Orang mulai menyebutnya sebagai Gus Dur kedua. Melalui pernyataan politiknya, geger politik pun terjadi. Hubungan SBY-Kalla sempat memanas saat ia menyebut Partai Golkar hanya akan meraih 2,5 persen suara pada pemilu legislatif. Bahkan Demokrat dan Golkar pecah kongsi pada pilpres lalu. Namanya Ahmad Mubarok. Dilahirkan di Purwokerto, 64 tahun silam.

Akhir Agustus lalu, Wakil Ketua Umum Demokrat itu kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Menurutnya, komunikasi politik yang tengah dibangun antara PDI Perjuangan dengan Demokrat hanyalah manuver politik untuk menekan partai mitra koalisi.

Pernyataan ini langsung mendapat tentangan keras dari partai mitra koalisi. Mubarok pun berkelit. Saat ditanya wartawan, Mubarok berdalih bahwa pers tidak utuh mengutip pernyataannya.

Akibat pernyataannya, tak hanya partai koalisi yang berang, pernyataan Mubarok juga memerahkan telinga elit PDI Perjuangan. Betapa tidak, Mubarok membantah Demokrat telah melakukan pendekatan ke PDI Perjuangan. Belakangan, beberapa partai koalisi meminta Demokrat memecat Mubarok.

Pernyataan kontroversial Ahmad Mubarok berhasil mendapat perhatian utama di media massa. Hasil media monitoring Charta Politika pada 24 – 30 Agustus 2009 menunjukkan Mubarok berhasil menjadi tokoh terpopuler dalam sepekan dengan intensitas pernyataan mencapai 32 pernyataan.

***

Yang kita kenang dari Gus Dur selain sosoknya yang toleran, pluralis, dan demokrat adalah sikap kontroversialnya dalam panggung politik. Semuanya bermula dari penyataan-pernyataan politiknya. Tak lama setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memilihnya sebagai presiden, Pengasuh Pesantren Ciganjur itu menyebut lembaga legislatif seperti taman kanak-kanak. Gus Dur juga pernah mengancam akan membubarkan DPR/MRR setelah terkuaknya kasus Buloggate dan Bruneigate.

Di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur juga muncul dengan kontroversial. Sebagai Ketua Dewan Syura PKB, ia pernah memecat Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil dan menggantinya dengan Alwi Shihab. Rupanya Matori bukanlah korban pertama. Setelah Matori, giliran Alwi ditendang dari kursi Ketua Umum PKB. Muhaimin Iskandar, diplot Gus Dur mengantikan Alwi. Petaka politik PKB belum berakhir di sini. Akhir Maret 2008, Gus Dur juga memecat keponakannya itu.

***

Lantas, selain pernyataaan yang kontroversial, apa yang membedakan implikasi pernyataan Mubarok dan Gus Dur? Dalam beberapa hal, pernyataan Gus Dur kadang membawa petaka politik. Ia dilengserkan dari kursi kepresidenan setelah menolak menyampaikan laporan pertangungjawaban dalam SI MPR. PKB terlibat konflik politik berkepanjangan. Setelah Matori dan Alwi, kini Gus Dur berseteru dengan Muhaimin. Meskipun kadang kontroversial, Gus Dur tetap kita kenang sebagai tokoh dan guru bangsa.

Berbeda dengan Gus Dur. Pernyataan Mubarak seperti berkah politik. Melalui pernyataannya, setelah Demokrat terlibat perang psikologi dengan Golkar, Demokrat dan SBY tampil sebagai pemenang dalam pemilu lalu. Belakangan, partai mitra koalisi tak lagi sibuk “meminta” jatah menteri setelah Mubarak “mengertaknya”. (Arya Fernandes)

Siang itu, 21 Agustus 2009, ia memperagakan blognya pada saya. “Baru belajar, Ya,” tuturnya merendah. Lelaki itu bernama Dicky Septriadi. Entah kenapa saya terbiasa menyapanya dengan panggilan “tiem” sebagai panggilan akrab saya. Ia juga memanggil saya dengan sebutan yang sama.

Saya membuka blog yang ia maksud. Melalui blognya, lelaki berkacamata yang gemar design grafis ini membuka mata saya untuk menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Bersama sejawatnya, ia mendirikan Imajinasi Foundation, sebuah lembaga non-profit yang fokus untuk membantu pendidikan anak usia dini.

Dua hari menjelang hari kemerdekaan, bersama Imajinasi Foundation, “tiem” sukses menggelar acara peringatan 17 Agustusan. Wajah cerita anak-anak tampak dari sejumlah foto yang ia pajang di blognya.

Di blog itu, “tiem”. juga bercerita tentang Si Omin dan Jenderal 86. Saya membaca dua tulisan ini dengan antusias. Bahasanya mengalir. Sesekali disisipi humor dengan gaya bahasa yang ngepop.

Siang itu, “tiem” menyarankan saya untuk kembali aktif menulis di blog. Lama saya termenung. Blog yang dulu pernah saya buat kembali saya buka. Sudah setahun rupanya tak pernah saya update. Sambil tersenyum, saya memeloti lama blog itu.

Pada “tiem” saya berujar: “Baik, saya akan menulis lagi di blog, atau mungkin akan menulis di situs pribadi,” ujar saya meyakinkan.

Ciputat, 21 Agustus 2009

Golkar selalu saja hadir dengan kejutan. Kali ini kejutan politik itu datang dari keluarga Cendana. Hutomo Mandala Putra yang akrab disapa Tommy Soeharto menyatakan kesiapannya untuk bertarung dalam pemilihan Ketua Umum Golkar pada Munas Golkar 4-7 Oktober nanti.

Kehadiran Tommy segera menjadi perbincangan hangat di internal Golkar. Bahkan, menjadi isu terhangat di media massa dalam seminggu terakhir ini, seperti terungkap pada hasil media monitoring Charta Politika Indonesia pada 17 – 23 Agustus 2009 dengan intensitas berita mencapai 55.300, disusul berita peringatan proklamasi (35.600), pengumuman hasil pilpres oleh KPU (34.600), kinerja MPR (19.500) dan penanganan terorisme (10.700).

Tentu ini menjadi pertanyaan penting. Mengapa media massa getol memberitakan kehadiran Tommy di panggung politik? Seberapa besarkah kehadiran Tommy dapat mempengaruhi konstelasi politik nasional? Untuk menjelaskannya, ada beberapa asumsi yang dapat digunakan. Pertama, faktor genealogi politik. Tommy adalah anak bungsu mantan Presiden Soeharto. Ia dianggap mewarisi kepribadian dan (bahkan) perawakan Soeharto. Selain itu, banyak yang menganggap Tommy bakal meneruskan dinasti politik Soeharto setelah pertaruhan politik Mba Tutut kurang mengembirakan.

Kedua, bos PT Timor Putera Nasional (TPN) Tommy juga mempunyai pundi-pundi uang yang besar. Tak heran bila ada yang menyindir, bahwa Munas Golkar kali ini adalah pertarungan para pengusaha (Aburizal Bakrie, Surya Paloh dan Tommy Soeharto). Ketiga, Tommy mempunyai rekam jejak politik yang kurang mengembirakan. Setelah Orde Baru tumbang, Tommy terjerat kasus hukum dengan perencanaan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita dan kepemilikan senjata api dan amunisi.

Keempat, kisah cinta Tommy juga banyak mendapat perhatian media massa. Setelah pisah ranjang dengan Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro (Tata), Tommy diberitakan pernah dekat dengan model Sandy Harun. Dan kabar teranyar, Tommy dikabarkan tengah dekat dengan Catherine Wilson dan Andi Soraya.

Kehadiran Tommy dalam panggung politik Golkar, meneguhkan bahwa dinasti politik Cendana belum sepenuhnya mati. Kekuatan modal dan jaringan bisnis Cendana masih tetap menggurita dalam konstelasi politik kita. Karena ia dibangun bukan dalam setahun, tapi 32 tahun. (A. Fernandes)

Jakarta, 24 Agustus 2009

Saya Arya Fernandes, mengucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kesucian Idul Fitri memberi kedamaian dalam hati dan laku kita.

  1. asd

Pelatihan Menulis Artikel Paramadina